baik-baik saja
sedikit berarus, hanya ombak kecil saja..
tak perlu gundah soal ini dan itu
tak perlu mendung hai awan kalbu
tak perlu berkabut dalam sangkaanku
jernih..
jernihlah saja..
05 November 2010
-tak inginkan itu.. Huh!!! Sungguh mengganggu!!-
Jumat, 05 November 2010
Kamis, 04 November 2010
Senin, 01 November 2010
Sudut Hati
kujajaki..
lubuk kutelusuri..
dalamnya kuselami..
ah, kau sungguh relung misteri..
01 November 2010
-seperti tertusuk duri.. ah,, mungkin aku iri-
lubuk kutelusuri..
dalamnya kuselami..
ah, kau sungguh relung misteri..
01 November 2010
-seperti tertusuk duri.. ah,, mungkin aku iri-
Sabtu, 30 Oktober 2010
Putri Tidur
bolehkah aku pura-pura tak tau?
hanya terbenam dalam anganku..
atau biarkan saja aku terlelap..
hingga kecup mentari luruhkan bening embun esok pagi..
30 Oktober 2010
-menunggu antrian mandi-
hanya terbenam dalam anganku..
atau biarkan saja aku terlelap..
hingga kecup mentari luruhkan bening embun esok pagi..
30 Oktober 2010
-menunggu antrian mandi-
Kamis, 21 Oktober 2010
Bukan Cinta Mati
aku hanya ingin cinta-setulus-hati-mu,,
bukan cinta-setengah-mati-mu..
21 Oktober 2010
-ceracau di sela bosan-
bukan cinta-setengah-mati-mu..
21 Oktober 2010
-ceracau di sela bosan-
Rabu, 08 September 2010
Luka Ilalang
seperti padang ilalang
terbentang indah mempesona
terombang-ambing buaian angin
membujuk berlari menari dalam lambainya
namun lalai 'kan buat luka karena sayatnya
berhati-hati sajalah!
08 September 2010
-Tak sabar ingin segera pulang-
terbentang indah mempesona
terombang-ambing buaian angin
membujuk berlari menari dalam lambainya
namun lalai 'kan buat luka karena sayatnya
berhati-hati sajalah!
08 September 2010
-Tak sabar ingin segera pulang-
Sabtu, 28 Agustus 2010
Saya Marah, Sungguh!!
pernah merasa begitu marah??
marah begitu membuncah tapi hanya bisa menelan ludah, menahan kata..
saya pernah..
saya marah bukan karena tak dibelikan handphone berkamera atau tak diizinkan bersepeda.. bukan karena itu, karena memang saya sudah punya.. jadi tak perlulah saya marah.. :p
masalahnya tak sesederhana itu.. rasanya tak perlulah saya ceritakan penyebab kemarahan saya.. tak apa, ya?! maafkan saya.. terima kasih.. :)
saya marah padanya, tapi saya tak mampu berkata-kata
tak bisa menunjukkan kesal saya padanya.. ah,, tapi saya tau dia merasakannya.
saya mulai pongah
menutup mata akan semua bujuknya, pedulinya, sayangnya.. ah, tak perlu ragu,, tak sedikitpun bual di dalamnya..
menutup telinga, tak hiraukan semua nasehatnya..
saya tak merasa lagi nyaman bersamanya, tidak seperti dulu
bercengkrama dengannya seperti hanya formalitas saja, bukti bahwa saya ada, duduk di dekatnya.
berbagi cerita hanya seadanya, tak lagi antusias seperti biasa
hanya supaya saya tak acuh padanya
hanya karena ini kewajiban saya
saya berubah
saya yang paling terluka
saya yang paling kecewa
itu yang saya rasa
pernah saya berkata keras padanya
begitu lancang membentaknya, lepas begitu saja
percayalah.. tak sekalipun saya menginginkannya, begitu hati-hati saya jaga
saya kehilangan kuasa atas lisan saya
ke-aku-an mengendalikan segalanya
bukan.. bukan karena saya benci padanya
demi Tuhan,, saya sungguh menyayanginya
tak sedikitpun saya ingin menyakitinya
kenapa tak begini?! kenapa tak begitu?!
harusnya begini!! harusnya begitu!!
"jaga kesehatan!"
"kenapa makan sembarangan?!"
sungguh saya menyayanginya
tapi tak lagi bisa rendahkan suara, berkata lembut padanya
saya begitu marah
hingga saya lihat kerut di dahinya, keriput tangannya
kesepian di coklat matanya
payah tanpa pamrihnya
putih mengganti hitam rambutnya
dirinya tak lagi muda
sebenarnya dirinya-lah yang paling terluka, yang paling kecewa
saya hanya pura-pura tak menyadarinya, tak bisa menerimanya
amarah membungkam nurani saya
saya mengaku salah
Tuhan yang Maha Agung, mohon ampunilah hamba
saya salah
menahan amarah, tak hanya menahan buncah tak pecah
tak cukup hanya dengan diam
amarah bukan untuk dipendam, tapi diredam, hingga menghilang
saya salah
takkan lagi saya mengulangnya
takkan lagi menyusahkannya
takkan lagi..
saya berjanji!
sepertinya saya mulai memahami sedikit arti
La taghdhob wa lakal jannah
semoga Allah membukakan pintu surga-Nya
amiin..
28 Agustus 2010
-Ayahku, Ayah Juara Satu!-
marah begitu membuncah tapi hanya bisa menelan ludah, menahan kata..
saya pernah..
saya marah bukan karena tak dibelikan handphone berkamera atau tak diizinkan bersepeda.. bukan karena itu, karena memang saya sudah punya.. jadi tak perlulah saya marah.. :p
masalahnya tak sesederhana itu.. rasanya tak perlulah saya ceritakan penyebab kemarahan saya.. tak apa, ya?! maafkan saya.. terima kasih.. :)
saya marah padanya, tapi saya tak mampu berkata-kata
tak bisa menunjukkan kesal saya padanya.. ah,, tapi saya tau dia merasakannya.
saya mulai pongah
menutup mata akan semua bujuknya, pedulinya, sayangnya.. ah, tak perlu ragu,, tak sedikitpun bual di dalamnya..
menutup telinga, tak hiraukan semua nasehatnya..
saya tak merasa lagi nyaman bersamanya, tidak seperti dulu
bercengkrama dengannya seperti hanya formalitas saja, bukti bahwa saya ada, duduk di dekatnya.
berbagi cerita hanya seadanya, tak lagi antusias seperti biasa
hanya supaya saya tak acuh padanya
hanya karena ini kewajiban saya
saya berubah
saya yang paling terluka
saya yang paling kecewa
itu yang saya rasa
pernah saya berkata keras padanya
begitu lancang membentaknya, lepas begitu saja
percayalah.. tak sekalipun saya menginginkannya, begitu hati-hati saya jaga
saya kehilangan kuasa atas lisan saya
ke-aku-an mengendalikan segalanya
bukan.. bukan karena saya benci padanya
demi Tuhan,, saya sungguh menyayanginya
tak sedikitpun saya ingin menyakitinya
kenapa tak begini?! kenapa tak begitu?!
harusnya begini!! harusnya begitu!!
"jaga kesehatan!"
"kenapa makan sembarangan?!"
sungguh saya menyayanginya
tapi tak lagi bisa rendahkan suara, berkata lembut padanya
saya begitu marah
hingga saya lihat kerut di dahinya, keriput tangannya
kesepian di coklat matanya
payah tanpa pamrihnya
putih mengganti hitam rambutnya
dirinya tak lagi muda
sebenarnya dirinya-lah yang paling terluka, yang paling kecewa
saya hanya pura-pura tak menyadarinya, tak bisa menerimanya
amarah membungkam nurani saya
saya mengaku salah
Tuhan yang Maha Agung, mohon ampunilah hamba
saya salah
menahan amarah, tak hanya menahan buncah tak pecah
tak cukup hanya dengan diam
amarah bukan untuk dipendam, tapi diredam, hingga menghilang
saya salah
takkan lagi saya mengulangnya
takkan lagi menyusahkannya
takkan lagi..
saya berjanji!
sepertinya saya mulai memahami sedikit arti
La taghdhob wa lakal jannah
semoga Allah membukakan pintu surga-Nya
amiin..
28 Agustus 2010
-Ayahku, Ayah Juara Satu!-

